03 Februari, 2010

Gema Adzan Menggetarkan Jiwaku

ISLAM AGAMAKU -
Oleh: M. Syamsi Ali
Ia banyak berpikir dan membaca tentang Islam. Dan ketika mendengarkan suara adzan, ia mengaku merasa sangat gemetar.

Senin malam lalu, bertepatan dengan hari peringatan kelahiran Dr. Martin Luther, pejuang hak-hak kesetaraan antarras di AS, dilangsungkan perhelatan akbar di Lincoln Center kota New York. Sedikitnya 2000 penonton menghadiri acara pertunjukan International Distinguished Concert of New York (IDCNY) dengan tema “The Armed for Peace”.
Acara ini sendiri dikemas sebagai rangkaian memperingati hari kelahiran Martin Luther sebagai simbol ‘non violence’ (anti kekerasan/perang). Sedangkan acara dengan tema “The Armed Force for Peace” dimaksudkan sebagai tandingan terhadap “the Armed Force for war”, yang akhir-akhir ini mendominasi berbagai peristiwa dunia kita.
Saya sendiri hadir sebagai undangan, tapi sekaligus diminta mengumandangkan adzan di selah-selah ‘concert for peace’ malam itu.
Tentu dengan sangat senang hati saya hadir, apalagi dengan tiket gratis yang konon kabarnya dijual hingga seratusan US Dollar itu. Tapi lebih dari itu, bagi saya, yang lebih menyenangkan lagi adalah kesempatan memperdengarkan sesuatu tentang Islam, walau itu hanya dengan gema adzan.
Bukan jalannya acara itu yang ingin saya ceritakan. Tapi sesuatu yang jauh lebih menarik dari segalanya.
Ternyata, diam-diam gema adzan yang saya lantunkan malam itu menjadi penyebab hidayah bagi seseorang. Dari dua ribuan hadirin itu, Allah memilih salah seorang di antara mereka untuk dibimbing menuju ridhaNya lewat kumandang adzan itu.
Orang tersebut baru pagi ini, Rabu, datang ke Islamic Center dan menyampaikan perasaannya di saat adzan dikumandangkan malam itu.
Saya baru tiba di Islamic Center ketika Sekretaris menelpon ,‘”Ya syeikh, ada seseorang ingin konsultasi,” begitu ujarnya. Normalnya saya tidak menerima tamu, kecuali jika sangat penting, sebelum shalat Dhuhur. “Bisakah dia menunggu Dhuhur?” tanya saya. “Dia mengatakan sedang tergesa-gesa,” jawab Sekretaris saya. “Let her come to my office,” kataku.
“I am really sorry to bother you early, Imam,” ujarnya mengawali pembicaraan di saat memasuki kantor. “Oh tidak sama sekali! Aku baru saja masuk dan ingin mempersiapkan pidato singkat setelah salat Dhuhur hari ini. Tapi baik-baik saja, saya pikir saya ok untuk bertemu denganmu. Terima kasih atas kunjungannya,” candaku.
Gadis itu nampak percaya diri. Tidak ada keraguan, dan terus memperlihatkan wajah yang ramah. Mungkin itulah tipe wanita-wanita Amerika, apalagi yang berpendidikan tinggi.
“Apa yang bisa aku bantu padamu hari ini?” ujarku memulai. Sambil menarik napas, dia melihatku dan mengatakan, “Saya yakin, Anda tak kenal saya, tetapi saya mengenal Anda.”
Saya sedikit terkejut dengan pernyataannya karena seolah-olah kehadirannya adalah karena mengenal saya.
“Really?” kataku lagi. “Apakah kita pernah berjumpa sebelumnya?” tanyaku seperti nggak sabaran. “No, tapi saya pernah melihat Anda beberapa hari lalu.” Saya sepertinya nggak percaya sebab memang tidak ada di benak bahwa dua hari sebelumnya saya tampil di Lincoln Center untuk mengumandangkan adzan. “Ya, dua hari lalu di Lincoln Center,” jawabnya.
Barulah saya sadar akan acara penting dua hari sebelumnya itu. “Dan apa yang bisa saya bantu kepada Anda hari ini?” tanyaku.
Dengan sedikit mimik yang serius, namun dengan wajah yang ceria dia menceritakan bahwa sejak bebarapa bulan terakhir ini dia sedang mendalami Islam.
Menurutnya lagi, keinginan mendalami Islam itu terdorong oleh kenyataan bahwa Islam semakin terekspos sedemikian rupa di berbagai media massa . “Sebenarnya, pada awalnya saya hanya ingin memastikan semua hal negatif yang telah dikatakan banyak orang tentang Islam. Tapi semakin aku belajar tentang hal itu, semakin aku tertarik padanya," katanya serius.
Karena nampaknya dia sangat tergesa-gesa, saya langsung saja ke poin penting. “Dan apa yang Anda dapatkan tentangnya?” tanyaku memancing. “Jujur, saya percaya bahwa agama Islam luar biasa. Sungguh pun begitu saya mempunyai banyak pertanyaan, dan saya tidak bermaksud melukai perasaan mana pun,” tegasnya.
“Oh not at all Miss!” kataku. “Kenyataannya, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin jalan bagi Anda untuk mengeksplorasi lebih jauh agama ini.“
Gadis baya berambut pirang ini tersenyum sambil menunduk. Mungkin masih merasa bersalah karena dalam benaknya masih ada beberapa pertanyaan tentang berbagai aspek agama ini. Barangkali karena tradisi agama lain, ketika mempertanyakan dianggap meragukan atau merupakan indikasi kelemahan iman.
“Anda tahu, dalam agama kami, menanyakan jawaban atas segala kekhawatiran yang mungkin sangat dianjurkan. Sebenarnya, itu adalah jalan menuju kebenaran," tegasku sambil memberikan contoh Ibrahim yang mempertanyakan bagaimana mungkin Allah akan menghidupkan orang yang telah mati (kaifa tuhyil mauta).
“Really? It is amazing! Kau tahu, salah satu dari banyak alasan mengapa saya belajar Islam, karena saya benar-benar ingin tahu. Aku tidak mau mengikuti sesuatu secara membabi-buta, bahkan ketika saya menolaknya rasionalitas,” jelasnya.
“But don’t forget,” saya memotong pembicaraannya. “Dalam hal bahwa rasionalitas kami mungkin tidak di posisi untuk bergulat. Tetapi tentu tidak ada dalam agama Islam membantah rasionalitas kami maupun sifat dasar manusiawi kami,” tambah saya.
Dia tampak agak bingung. Tapi kemudian saya lanjutkan, “Ketika Anda menghitung 1 ditambah 1 ditambah 1, menurut rasionalitas kita adalah 3. Tapi kalau ada orang yang bersikeras untuk mengatakan itu adalah 1, maka itu bertentangan dengan rasionalitas kita...” jelas saya. "Tapi bila Anda mengatakan bahwa Allah akan membawa kita kembali ke kehidupan setelah kematian, rasionalitas Anda mungkin tidak dalam posisi untuk tahu detailnya. Tetapi tidak bertentangan dengan pikiran kita. Mengapa? Bagi Tuhan, Yang menciptakan kami dari tidak ada, akan lebih mudah mengembalikan kami, membandingkan hingga awal penciptaan manusia.”
Tak terasa waktu berjalan hampir sejam kami mengobrol. “I am sorry to talk that much. I know you are in a hurry,” kataku sambil tersenyum. “Oh no! I am okay... but need to go back to my work,” jawabnya.
“Di mana Anda bekerja? Dan siapa nama Anda,” tanyaku. Dari awal kami mengobrol, ternyata lupa saling menanyakan nama. “Hai, nama saya Nicole dan aku seorang akuntan bekerja di perusahaan akuntansi di Kota. Dan kau tahu hari-hari ini sangat sibuk bagi kami,” jawabnya.
Saya teringat kalau hari-hari ini adalah waktu pengurusan tax bagi warga Amerika. Dan sudah tentu dia sangat sibuk.
'Ngomong-ngomong, saya berharap percakapan kita telah menarik Anda,” kataku.
“Tentu,” jawabnya sambil kelihatan serius.
“Syeikh, saya rasa…” katanya terpotong.
“Mengapa dengan perasaan Anda?” tanyaku.
Sambil membalik posisi duduknya, sang gadis itu melihat saya dengan wajah serius. “Saya berpikir, lebih baik bagi saya untuk mengejar impian saya,” katanya lebih serius.
“Impian tentang apa?” tanyaku.
“Saya ingin menjadi seorang Muslim sekarang,” tegasnya. “Dan Anda tahu? Saya datang karena lagu yang Anda nyanyikan (adzan, red) di Lincoln Center Senin yang lalu. Jujur, setelah membaca banyak tentang Islam, banyak berpikir tentang hal itu, dan ketika saya mendengarkan Anda bernyanyi (melantunkan adzan, red), saya mendengar itu dengan gemetar, dan aku tidak tahu mengapa itu begitu kuat!”
"Nicole, saya yakin itu Anda tulus dalam cara itu untuk menemukan kebenaran. Dan Anda telah menemukannya!”
"Jadi apa yang aku lakukan?" tanyanya.
"Ini sangat sederhana,” jawabku.
Saya kemudian memanggil dua jama’ah yang sudah mulai datang ke Islamic Center, terutama para sopir taksi yang memang menjadikan masjid 96th Street itu sebagai station untuk shalat dan keperluan kamar mandi.
Setelah keduanya hadir di kantor, saya memulai membimbing Nicole dengan linangan airmata: “Asy-hadu anlaa ilaah illa Allah. Wa asy-hadu anna Muhammadan Rasulullah,” diikuti takbir kedua saksi.
Sebelum meninggalkan Islamic Center Nicole sempat belajar wudhu dan shalat Dhuha. Tapi dia berjanji untuk shalat Dhuhur di kantornya, yang menurutnya cukup private.
Selamat Nicole, semoga Nicole Friedman ini bisa menjadi inspirasi bagi Nicole Kidman menemukan hidayahNya!.(hidayatullah)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

Gereja Katolik Prancis: Hormatilah Orang Islam Dan Jangan Larang Jilbab

ISLAM AGAMAKU - Gereja Katolik Prancis memperingatkan Paris agar menghormati pemakaian jilbab pada orang Islam. Gereja menegaskan Prancis harus menghormati hak-hak umat Islam jika ingin negara-negara Islam melakukan hal yang sama, menghormati kaum minoritas Kristen di negaranya.

Sebuah komisi parlemen pekan lalu mendesak Dewan Nasional untuk mengeluarkan sebuah resolusi yang tidak melarang wanita berjilbab dan atau bekerja di luar. "Prancis, termasuk umat Katolik, seharusnya tidak membiarkan diri mereka dicekam oleh rasa takut atau teori 'benturan peradaban'," ujar Uskup Michel Santier, kepala Katolik Prancis Untuk Dialog Antaragama.
"Jika kita ingin minoritas Kristen di negara-negara mayoritas Muslim menikmati semua hak mereka, maka kita harus menghormati hak-hak semua orang untuk mempraktikkan ajaran mereka di negara kita.
Santier juga menyesalkan bahwa komisi parlemen tidak mengundang pemimpin Kristen untuk memberikan pandangan mereka selama enam bulan selama dengar pendapat, yang berakhir pada bulan Desember tahun lalu. (ermus)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

Sekitar 12.000 Warga Belanda Masuk Islam

ISLAM AGAMAKU - Lebih dari 500 orang menghadiri konferensi tahunan "hari kembali Belanda" ke-3 yang diadakan di masjid besar Omar Al Farouk di kota Utreceht pada hari Ahad malam lalu (31/1). Acara ini diselenggarakan oleh yayasan OntdekIslam dan Platform Nasional Belanda untuk Muslim baru (LPNM).

Waleed Duisters, ketua LPNM kepada Kuwait News Agency (Kuna) menyatakan bahwa angka yang dikeluarkan pada tahun 2007 menunjukkan ada 12.000 orang Belanda yang memeluk agama Islam, dan menambahkan bahwa mungkin masih banyak lagi.
Dia menjelaskan bahwa sangat sulit untuk memberikan angka yang tepat dari orang Belanda yang memeluk agama Islam karena di Belanda tidak ada pendaftaran orang yang berdasarkan agama. "Kami mempunyai banyak anggota yang merupakan warga Belanda yang memeluk agama Islam, sehingga tujuan konferensi ini adalah mencoba membantu mereka untuk menemukan jalan terbaik di dalam masyarakat Islam khususnya dan masyarakat Belanda secara umum," kata Dusiters yang dirinya telah masuk Islam sepuluh tahun yang lalu.
Dia mencatat bahwa kadang-kadang menjadi mualaf baru akan menghadapi banyak masalah dengan keluarga mereka dan masyarakat Islam Belanda tidak tahu bagaimana menangani para mualaf baru tersebut.
"Dalam masyarakat Belanda ada orang-orang yang skeptis terhadap Islam dan kadang-kadang kita punya kasus para mualaf baru banyak yang menghadapi masalah besar dengan keluarga mereka. Kami ingin membantu mereka untuk menjalani hidup tanpa masalah," kata Duisters.
Pertemuan besar warga Belanda yang masuk Islam dengan umat Islam dari Turki, dunia Arab dan Suriname, di isi dengan mendengarkan ceramah oleh pembicara internasional yang terkenal seperti Hussein Ye dari Malaysia dan Pierre Vogel dari Jerman - dikombinasikan dengan pembicara anak-anak muda Belanda yaitu Ali al Khattab dan Elsa van de Loo yang juga merupakan perwakilan pemuda Belanda untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tujuh warga Belanda termasuk tiga wanita masuk Islam selama konferensi berlangsung pada hari Ahad lalu (31/1).
Duisters berkata: "Islam memperkaya hidup saya. Sekarang saya punya kehidupan yang stabil. Saya tahu apa yang harus saya ajarkan kepada anak-anak saya untuk menjadi Muslim yang baik tetapi juga menjadi warga negara Belanda yang baik."
Dia mencatat bahwa jumlah umat Islam di Eropa tumbuh dengan pesat. Banyak orang yang masuk Islam karena mereka banyak mendengar tentang Islam sehingga mereka ingin tahu tentang Islam dan mulai membaca Quran dan Hadits.
Tapi ia juga menyalahkan umat Islam, karena tidak melakukan penjelasan yang cukup untuk menjelaskan Islam.
"Kaum Muslimin di Belanda punya banyak kesempatan untuk memberikan gambaran yang baik tentang Islam tetapi sebagian besar waktu mereka gagal," keluhnya.
"Ada juga masalah lain yaitu umat Muslim yang tidak bisa terintegrasi ke dalam masyarakat Belanda," katanya.
"Kita harus hidup sebagai Muslim di Belanda tetapi juga bagian dari masyarakat Belanda. Kita jangan menjadi kelompok yang aneh. Kami menyarankan umat Islam untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat Belanda," katanya.
Marck Reuvers, yang bertanggung jawab terhadap media pada konferensi tersebut dan dirinya sendiri seorang jurnalis, mengatakan kepada Kuna bahwa "ini adalah hari yang sangat istimewa. Hal inilah yang disebut mengubah hari di Belanda."
"Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk menunjukkan bahwa warga Belanda yang memeluk agama Islam juga merupakan bagian dari umat yang lebih besar," kata Reuvers yang masuk Islam pada tahun 2007. "
Saya sedang mencari sesuatu yang membuat hidup saya lebih bermakna. Setelah menjadi seorang Muslim saya memiliki tujuan dalam hidup. Saya merasa sangat bahagia dan nyaman, "katanya.
Abdel Karim masuk Islam pada tahun 2008 dan saat ini dirinya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pekerja sosial.
"Saya butuh Tuhan dalam hidupku. Saya suka cerita tentang nabi Ibrahim, Musa, Yesus, tapi saya tidak menyukai foto di dalam Gereja dengan Tuhan berkulit putih," katanya.
"Tapi saya sangat mengasihi Yesus dan saya juga sangat mencintai Musa dan saya menyayangi mereka dalam Islam. Aturan dalam Islam jauh lebih murni. Tidak ada rasisme dalam Islam," kata anak muda muslim Belanda berjenggot ini kepada kuna.
Dia mengatakan orang harus melakukan memberikan banyak penjelasan kepada masyarakat Belanda setelah mereka masuk Islam. "Anda berhenti minum minuman keras, Anda berhenti merokok, Anda berhenti berbicara berghibah. Jadi orang-orang di sekitar anda akan bertanya mengapa Anda tidak minum, kenapa Anda memiliki jenggot", katanya.
Van der Putten Malleen juga seorang jurnalis yang bekerja untuk sebuah siaran Islam Belanda memiliki cerita yang unik dari masuk Islam dirinya. Dia masuk Islam enam tahun lalu. Van der Putten mengatakan "suatu hari ia berkata beberapa hal buruk untuk seorang Muslim. Kemudian dia berkata pada dirinya sendiri mengapa saya berkata hal-hal buruk tentang Islam sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentang Islam."
Dia akhirnya pergi ke sebuah toko dan membeli beberapa buku Islam, membaca dan membaca sehingga kemudian secara bertahap ia masuk Islam.
Dia mengatakan umat Islam seharusnya berbicara dengan banyak orang, berbicara dengan tetangga untuk menjelaskan Islam yang benar dan harus ada lebih banyak interaksi dengan orang lain.
Elsa van de Loo, wakil pemuda dari Belanda di Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengatakan kepada Kuna bahwa dia masuk Islam satu setengah tahun yang lalu.
Ayahnya dari Belanda dan ibunya dari Republik Dominika.
"Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik namun tidak mempraktikkan agama kristen," katanya.
Namun kemudian saya mulai membaca Quran dalam bahasa Belanda.
"Pada awalnya sulit bagi saya untuk memahami dan saya tidak tahu banyak umat Islam yang akan menjelaskan kepada saya. Kemudian pada suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis Muslim asal Maroko yang mulai menjelaskan Al-Quran dan Islam," katanya.
"Banyak hal yang sedang saya cari jawabannya, saya temukan hal itu dalam Islam.
Saya merasa sangat baik .. Islam memberi saya kedamaian. Di masa lalu saya selalu gelisah saya tidak tahu Apa yang harus saya lakukan dalam hidup. kemana saya akan pergi. Sekarang saya punya jawabannya, "katanya kepada kuna.
Dia mengatakan dia tidak pernah menghadapi masalah dengan pemerintah Belanda karena memakai Hijab tetapi beberapa kritikus mengatakan bagaimana dirinya bisa mewakili Belanda di PBB dengan mengenakan Hijab.
"Saya memberitahu mereka bahwa pekerjaan saya terpisah dari agama saya. Ketika saya dalam pekerjaan saya, saya mewakili semua orang di Belanda ," kata Elsa van de Loo.(ermus)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

Alasan Sesungguhnya Mengapa AS dan NATO Ada Di Afghanistan

ISLAM AGAMAKU - Afghanistan tak pernah berhenti dirundung penjajahan dalam beberapa dekade ini. Setelah Russia menyingkir, kini Amerika dan tentara sekutu NATO menduduki negeri mullah itu. Ada apakah sebabnya?
Menurut laporan AFP, Afghanistan adalah negara yang mempunyai cadangan mineral paling kaya, yang menawarkan harapan bagi sebuah negara yang tenggelam dalam kemiskinan setelah puluhan tahun menghabiskan dana perang. Endapan tembaga, besi, emas, minyak-gas, dan batubara, serta permata, sebagian besar belum dimanfaatkan dan masih sedang dipetakan. Hal itu dibeberkan oleh Mohammad Adel Ibrahim, menteri pertambangan Afghanistan.

Namun ironisnya, Afghanistan menjadi salah satu negeri paling miskin di dunia karena bara api yang selalu disulut oleh pihak asing.
Asal tahu saja, eksploitasi besar-besaran tembaga—salah satu yang terbesar di dunia—sekitar 30 kilometer (20 mil) timur Kabul, terus terjadi. Sewa 30 tahun tambang tembaga Aynak itu pada bulan November tahun silam ditawarkan kepada China Metallurgical Group Corporation dan kontraknya sedang diselesaikan.
"Diperkirakan bahwa deposit Aynak memiliki lebih dari 11 juta ton (tembaga)," katanya, mengutip survei tahun 1960-an oleh Uni Soviet dan sebuah studi baru oleh United States Geological Survey (USGS).
"Dengan harga sekarang, deposit itu seharga 88-miliar dolar!"
Proyek kolosal yang mewakili Aynak ini hanya sebagian kecil dari sumber daya alam Afghanistan. Saat ini USGS sedang melakukan survei nasional kekayaan mineral dan deposit minyak dan gas yang diharapkan akan selesai dalam satu tahun. USGS memperkirakan ada sekitar 700 miliar meter kubik gas dan 300 juta ton minyak di beberapa provinsi utara.
Sebuah survei dari Rusia memperkirakan ada lebih dari dua milyar ton cadangan besi di Afghanistan. Salah satu yang paling dikenal adalah deposit besi di Haji Gak, 90 kilometer sebelah barat Kabul.
Tapi untuk semua itu, menurut Adel, pemerintah Afghanistan sudah berencana menawarkan lebih banyak tender proyek-proyek untuk sektor swasta tahun depan. Sudah ada beberapa pertambangan yang berlangsung seperti pertambangan zamrud Panjshir di daerah timur laut Kabul, dimana dinamit digunakan untuk meledakkan tanah agar permata keluar.
"Dalam waktu lima tahun mendatang, Afghanistan tidak akan lagi memerlukan bantuan dunia," kata Adel. "Dalam 10 tahun, Afghanistan akan menjadi negara terkaya di kawasan." Tapi mungkin sang menteri pertambangan lupa, jika semua kekayaan negara yang dikelola pihak asing tak akan pernah dapat memajukan negara manapun di dunia ini. Satu lagi, Adel Baz, negara Anda juga penuh dengan para koruptor! (ermus)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

Kota Rendsberg Jerman Izinkan Adzan Masjid dengan Pengeras Suara

ISLAM AGAMAKU - Salah satu kota di Jerman - kota Rendsberg, membolehkan masjid di sana untuk menyuarakan panggilan adzan lewat pengeras suara, meskipun mendapat penentangan dari sebagian warga di kota tersebut.
Walikota Rendsberg Andreas Breitner yang berasal dari partai sosialis demokratik menyatakan bahwa tidak ada alasan hukum untuk melarang umat Islam dengan masjidnya menyuarakan adzan lewat pengeras suara.

Proyek suara adzan lewat pengeras suara ini sendiri juga di dukung oleh Islamic Center yang mengelola masjid di kota itu, meskipun di bawah bayang-bayang kritikan dan kecaman dari sekelompok masyarakat yang katanya merasa terganggu dengan suara adzan yang berkumandang lima kali sehari.
Kelompok masyarakat di kota Rendsberg yang menentang diperbolehkannya suara adzan dari masjid lewat pengeras suara, telah melakukan kampanye penolakan mereka, dan sejauh ini mereka telah mengumpulkan lebih dari 800 tanda tangan warga yang menolak suara adzan tersebut, seperti dilaporkan AFP.
Walikota Rendsberg menyatakan sebuah kajian membuktikan bahwa suara adzan yang dianggap sekelompok warga mengganggu itu, ternyata tidak lebih berisik dari suara siaran televisi atau radio maupun burung-burung berkicau, katanya menegaskan.
Dia menambahkan: "Warna kulit dan perbedaan ras atau agama, tidak ada hubungan dan memainkan peran apapun dalam pengambilan keputusan yang membolehkan suara adzan lewat pengeras suara. Dan kami cukup puas dengan hal itu."
Masjid di kota Rendsberg berdiri di wilayah yang berpenduduk 28 ribu orang, terletak 100 km dari kota Hamburg. Masjid yang diresmikan pada musim gugur tahun 2009 ini sendiri merupakan masjid terbesar di Schlewig-Holstein dengan memiliki menara setinggi 26 meter.(ermus)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

01 Februari, 2010

Bangkai Manusia Berjalan

ISLAM AGAMAKU -Suatu hari, saat mentadabburkan beberapa ayat Qur’an, tiba-tiba ustadz bertanya pada jamaah yang hadir : Pernahkah melihat bangkai manusia berjalan? Para hadirinpun kaget dan serentak menjawab : Belum pernah ustadz…
Nah, kalau mau melihat bangkai manusia berjalan, saya akan tunjukkan dan akan perlihatkan bagaimana bangkai-bangkai manusia berseliweran di mana-mana. Jumlahnya banyak sekali. Lebih banyak dari manusia yang hidup. Bentuknyapun sangat beragam. Begitu pula aromanya, ada yang busuk dan ada yang busuk sekali.

Mendengar tantangan tersebut para hadirin mulai berbisik-bisik antara satau sama lain karena sangat penasaran. Mereka tidak sabar dan ingin segera melihat bangkai-bangkai manusia yang berjalan itu. Di antara mereka ada yang berkata : Ustadz jangan bercanda dong? Masa ada bangkai manusia yang berjalan?
Setahu saya manusia yang sudah mati itu tidak bisa berkata, apalagi berjalan. Mandi dimandikan. Berpakaian harus dipakaikan. Shalat juga sudah tidak bisa dan bahkan wajib dishalatkan. Kalau orang mati itu bisa berjalan, tidak perlu kita yang hidup ini repot-repot mengantarkannya ke kuburan. Mana mungkin ustadz, katanya sambil mengkerutkan dahinya yang terlihat bekas sujud itu.
Saya tidak bercanda loh, kata sang ustadz. Kalau hadirin serius, saya akan perlihatkan saat ini juga. Tapi, saya minta satu syarat yang harus dipenuhi. Syaratnya mudah saja dan tak sulit. Bahkan gratis lagi, alias tidak perlu keluar biaya apa-apa.
Mereka bertanya : Apa syaratnya ustadz? Syaratnya ialah, hadirin harus pakai kacamata Qur’an. Agar kacamata Qur’an itu efektif dan bisa memperlihatkan bangkai-bangkai manusia yang berjalan itu, maka pikiran, hati dan perasaan harus dibuka selebar-lebarnya dan sejujurnya untuk menerima kebenaran setiap kata, nilai, pelajaran, perintah, larangan dan apa saja yang dijelaskan Qur’an. Baik ustadz, kata mereka.
Sang ustadz melanjutkan : Mari semua konsentrasi kita ditujukan pada ayat 122 surat Al-An’am yang baru saja kita baca. Allah berfirman :
"Apakah sama orang yang mati, lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya (Qur’an) yang ia bawa berjalan di tengah manusia, dengan orang yang berada dalam berbagai kegelapan di mana ia tidak bisa keluar darinya (kegelapan-kegelapan itu). Demikianlah, diperlihatkan baik pada orang-orang kafir itu apa saja yang mereka lakukan.
Melalui kacamata Qur’an ayat 122 surat Al-An’am ini, kita bisa melihat bahwa orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran Qur’an, atau menerima kebenarannya tapi tidak mengamalkan kandungannya dalam kehidupan dunia ini serta tidak mau menyebarkannya di tengah masyarakat sesuai profesi, mereka adalah orang-orang yang mati, alias bangkai-bangkai yang berjalan, kendati secara lahiriah mereka hidup, bekerja, melakukan sidang di parlemen, rapat kabinet, meeting bisnis, sekolah, berkumpul di rumah bersama istri dan anak-anak, belanja di pasar dan seterusnya.
Bukan hanya sampai di situ, menurut kacamata Qur’an, mereka hidup dalam berbagai kegelapan yang berlapis-lapis, sehingga semua aktivitas hidupnya bagaikan fatamorgana, dan selalu dalam keadaan bingung, meraba-raba dan hidup tak jelas tujuan. (QS. An-Nur : 39 – 40)
Sebaliknya, orang-orang yang menerima kebenaran Qur’an dengan semua kandungan dan isinya kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, di manapun dia berada, apapun profesinya, Qur’anlah yang menjadi petunjuk hidupnya, maka mereka adalah orang yang benar-benar hidup.
Bukan hanya itu, hidupnya dalam cahaya Allah yang terang benderang, sehingga semua aktivitas hidup yang dijalankannya bernilai tinggi dan tidak ada yang sia-sia, apalagi keliru dan tersesat. Dengan demikian, hidupnya menjadi produktif, pemanfaatan waktunya sangat baik dan tidak ada yang digunakan untuk perkara yang sia-sia, apalagi yang haram.
Pertanyaannya kemudian adalah : Berapa banyak sih manusia yang berjumlah 6 milyar yang hidup di atas bumi saat ini yang meyakini kebenaran Qur’an? Menurut data terakhir, hanya 1.3 milyar yang mengakui kebenaran Qur’an, alias Muslim, atau sekitar 21,6 % saja. Sedangkan 200 juta atau sekitar 15,38 % ada di Indonesia.
Dari 200 juta yang mengakui kebenaran Al-Qur’an di Indonesia, berapa persen yang bisa baca Qur’an? Berapa yang benar-benar mengimani Qur’an sebagai dusturul hayah (landasan hukum dalam kehidupan)? Berapa persen dari mereka yang membaca Qur’an setiap hari? Berapa pula mereka yang memahami isi Qur’an? Berapa yang sudah mengamalkan kendati sebagian kandungan Qur’an? Berapa yang mengamalkan semua petunjuk Qur’an dalam semua aspek kehidupan?
Berapa persen yang meyakini, membaca setiap hari, mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain, minimal kepada anak-anak dan istri mereka? Dan berapa persen yang memperjuangkan Qur’an sebagai dustur ul hayah(landasan hukum dalam kehidupan), khususnya sebagai dustur daulah (sistem negara)?
Menurut data terakhir pemilu 2009 lalu, 4 partai yang berdasarkan Islam, hanya mendapat sekitar 15 % suara pemilih yang jumlahnya sekitar 100 juta. Artinya, kalau angka ini yang kita jadikan acuan hitungan, berarti hanya sekitar 15 juta manusia di Indonesia ini yang berkeinginan menjadikan Qur’an sebagai dusturul hayah (landasan hidup).
Dengan kata lain, hanya sekitar 7.5 % dari penduduk Muslim Indonesia yang berminat menjadikan Qur’an sebagai landasan hukum dalam kehidupan di dunia ini. Kalau ditambah dengan yang tidak ikut pemulu 2009, katakanlah sekita 5 % (10 juta), maka total umat Islam yang berminat menjadikan Qur’an sebagai landasan hidup hanya sekitar 12,5 %, atau sekitar 25 juta saja.
Asumsi angka tersebut di atas baru terkait dengan minat umat Islam untuk menjadikan Qur’an sebagai landasan hukum dalam kehidupan. Sedangkan minat saja belum cukup dan harus diimplementasikan. Kalau kita lihat filosofi hidup, paradigma berfikir, program kerja, gaya hidup, sistem politik, ekonomi, perundang-undangan, pertahanan keamanan, pendidikan, budaya, pelayanan sosial yang dijalankan, khususnya oleh 7.5 % yang memakai baju Islam dalam politik praktis mereka sejak era reformasi 12 tahun belakangan ini, maka sama sekali tidak memperlihatkan keinginan mereka mejadikan Qur’an sebagai dusturul hayah (landasan hidup), apalagi dustur daulah (landasan hukum negara).
Hampir satu katapun tak terlihat dan terucap himbauan kepada pemerintah dan umat untuk kembali kepada Qur’an sebagai satu-satunya jalan keluar dari berbagai krisis yang sedang melilit negeri ini, apalagi melakukan Qur’anisasi sistem dan peraturan pemerintahan. Kalaupun tidak berupa himbauan, dalam bentuk keteladanan hidup dan berpolitikpun tidak tampak sebagai orang yang meyakini dan membawa cahaya Qur’an di tengah-tengah masyarakat.
Sebab itu, keributan 100 hari pemerintahan SBY-Boediono sejatinya tak perlu ada, khususnya bagi mereka yang menggunakan kacamata Qur’an. Jangankan 100 hari, 1,000 tahunpun tidak akan ada perubahan dan perbaikan, karena menurut kacamata Qur’an, orang-orang yang tidak beriman kepada Qur’a, atau beriman tapi tidak mau menjadikan Qur’an sebagai cahaya yang menerangi kehidupan di dunia ini, ibarat orang-orang yang mati dan berada dalam berbagai kegelapan.
Orang-orang seperti ini mustahil mampu keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi, apalagi mengeluarkan orang lain dari berbagai permasalah hidup ini. Amal perbuatan mereka bagaikan fatamorgana, tersesat dan tidak akan pernah medapat jalan keluar, khususnya keluar meraih keridhaan, keberkahan dan rahmat Allah. Ajaibnya, mereka mengiranya sedang berbuat baik dan yang terbaik untuk kehidupan. (QS.Al-Kahfi : 103 – 105)
Nah, jamaah sekalian… Kalau kita mau hidup dan di dalam kehidupan ini ada cahaya Allah yang menerangi perjalanan dan aktivitas hidup kita, maka yakinilah Qur’an itu sebagai dustrul hayah dan dustur daulah. Sebagai bukti orang yang hidup, bawa cahaya itu ke tengah masyarakat di mana kita tinggal bersama mereka, apapun profesi kita serta apapun risikonya.
Karena untuk bisa menjadi orang-orang yang hidup dan mendapatkan cahaya Qur’an tidak cukup hanya slogan dan klaim belaka. Kita harus memulainya dari diri sendiri, kemudian diteruskan di rumah tangga, masyarakat dan sampai ke Negara. Itulah satu-satunya cara agar kita bisa hidup dan tidak menjadi bangkai-bangkai yang berjalan di atas muka bumi ini. Allahumahdina fi man hadait!!!(ermus)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

Musuh Muslim Swiss Kini Jadi Prajurit Islam


ISLAM AGAMAKU -Seorang politikus kondang Swiss, Daniel Streich, yang menoreh namanya mencapai ketenaran untuk kampanye pelarangan terhadap menara-menara Masjid, telah memeluk Islam.
Sebagai seorang anggota Partai Rakyat Swiss (SVP) dan politikus terkenal, Daniel Streich adalah orang pertama yang meluncurkan dorongan untuk pengamplikasian larangan menara Masjid, dan mengunci Masjid-Masjid di Swiss.
Proklamasi konversi Streich ke Islam telah menciptakan kehebohan di arena politik Swiss, selain menyebabkan keterkejutan bagi mereka yang mendukung larangan pembangunan menara Masjid.

Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam secara jauh dan luas di negeri ini, menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi Islam di kalangan rakyat, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan menara Masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang tentara Islam. Pikiran Anti-Islam akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini sehingga ia memeluk Islam. Dia malu akan tindakannya sekarang dan berkeinginan untuk membangun Masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat Masjid di Swiss dan Streich ingin meletakkan dasar untuk yang kelima. Dia ingin mencari pengampunan dosanya karena telah mengembangbiakkan racun kebencian terhadap Islam. Ia sedang berpikir tentang sebuah gerakan berlawanan dengan sebelumnya untuk mempromosikan toleransi beragama dan damai hidup bekerja sama, meskipun fakta bahwa larangan menara Masjid telah memperoleh status hukum.
Ini adalah kualitas terbesar Islam yang datang dengan kekuatan yang lebih besar, ketika dihadapkan dengan konfrontasi.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa Eropa memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich.
Selama konfrontasi, Streich mempelajari Al-Qur’an dan mulai memahami Islam.
Ia ingin menjadi keras terhadap Islam, tetapi hasilnya sebaliknya. Aldai lebih lanjut mengatakan.
Baru-baru ini pertanyaan tentang larangan menara diletakkan untuk pemungutan suara di Swiss, di mana warga negara Swiss memberi pengeluaran status hukum.
Sesuai hasil pemungutan suara 42,5 persen orang memberikan suara yang berpihak pada menara dan 57,5 persen mendukung larangan, sementara populasi Muslim di Swiss hanya 6 persen. Oleh karena itu hal yang paling menakjubkan dalam hal ini adalah dukungan dari 42,5 persen penduduk untuk hanya enam persen Muslim.
Para analis menyatakan bahwa larangan menara dan ritual Islam telah menarik orang-orang terhadap Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Pentingnya dia dapat diperkirakan dari pengaruhnya pada pembuatan kebijakan partai, di mana ia selalu punya peran penting. Gerakannya terhadap menara ini ditujukan untuk mendapatkan perhatian dan kepentingan politik. Ia memenangkan slot instruktur militer di Tentara Swiss karena popularitasnya.
Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich menjalani studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah dan menentang semua, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia memutuskan dirinya dari kegiatan politik dan dia memeluk Islam. Streich telah menyebut kegiatan SVO melawan kaum muslimin sebagai setan.
Ia mengatakan bahwa ia terbiasa untuk membaca Alkitab dan sering pergi ke kapel, tapi sekarang ia membaca Al-Qur’an dan melaksanakan sholat-sholatnya lima kali sehari. Dia lebih jauh mengatakan bahwa ia membatalkan keanggotaan partai dan membuat pertobatan publiknya.
Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam kekristenan.
Di sisi lain penguasa militer Swiss telah takut bahwa Streich, yang pernah menjadi instruktur militer, akan mengungkapkan rahasia tentara bagi kaum Muslimin.
Seorang anggota Dewan Nasional SVP mengatakan bahwa Streich sebagai instruktur militer bisa berbahaya.
Namun, seorang jurubicara Tentara Swiss sementara menolak kesan ini mengatakan bahwa performa militer lebih penting daripada siapa yang memerintahkannya.
Namun, dari dalam barisan mereka sendiri, seorang pria sekarang bekerja untuk mempromosikan Islam dan ajaran-ajarannya. Hukum suatu negara dapat melarang menara tapi tidak pikiran dan hati. (sumed)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

28 Januari, 2010

Ingrid Mattson Kenal Islam Melalui Seni


ISLAM AGAMAKU - Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat ketika namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inaugurasi Barack Obama setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.

Sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press (AP), Mattson yang menjabat presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44. Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.
Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya. Sebelumnya, Muslimah kelahiran Kanada tahun 1963 ini juga pernah membuat kejutan dengan melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi Pentagon selama pemerintahan Bush. Dia juga hadir pada misa Konvensi Nasional Partai Demokrat di Denver saat Obama mencalonkan diri sebagai presiden.
Pemerintah AS dan ISNA sebenarnya memiliki hubungan kerja sama yang baik. Kelompok tersebut memberikan latihan agama kepada Biro Penyelidik Federal (FBI). Karen Hughes, orang kepercayaan Bush, mengatakan bahwa Mattson sebagai pemimpin yang hebat dan panutan bagi banyak orang. Mattson adalah seorang profesor studi Islam di Hartford Seminary di Hartford, Connecticut.
Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang filsafat dari Universitas Waterloo, Ontario, pada 1987. Sementara gelar PhD pada studi Islam ia peroleh dari Universitas Chicago pada 1999. Penelitiannya mengenai Hukum Islam dan Masyarakat. Selama kuliah di Chicago, ia banyak terlibat pada kegiatan komunitas Muslim lokal.
Ia duduk dalam jajaran Direktur Universal School di Bridgeview dan anggota komite Interfaith Committee of the Council of Islamic Organizations of Greater Chicago. Mattson juga pernah menetap di Pakistan dan bekerja sebagai pekerja sosial bagi pengungsi wanita Afghanistan selama kurun waktu 1987-1988. Pada 1995, ia ditunjuk sebagai penasihat bagi delegasi Afghanistan untuk PBB bagi Komisi yang membidangi Status Perempuan.
Saat bekerja di kamp pengungsi di Pakistan inilah ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, Amer Aetak, seorang insinyur dari Mesir. Dari pernikahan mereka, pasangan ini dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soumayya dan satu orang anak laki-laki bernama Ubayda.
Meski saat ini banyak berkecimpung dalam kegiatan keagamaan dan menjabat sebagai Presiden ISNA, sebuah organisasi berbasiskan komunitas Muslim terbesar di AS, namun Mattson kecil tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada. Ayahnya adalah seorang pengacara pidana, sementara ibunya bekerja di rumah membesarkan ketujuh anaknya.
Mattson berhenti pergi ke gereja pada usia 16 tahun dengan alasan tidak bisa lagi percaya dengan apa yang diajarkan oleh gereja. Saat menimba ilmu di Universitas Waterloo, ia mempelajari seni dan filsafat, yang dinilainya menekankan kebebasan seseorang untuk memilih.
''Setahun sebelum saya masuk Islam, saya banyak menghabiskan waktu saya mencari dan melihat hal-hal yang berhubungan dengan seni. Saat mengikuti pendidikan bidang filsafat dan seni rupa, saya duduk berjam-jam dalam ruang kelas yang gelap untuk melihat dan mendengarkan penjelasan profesor saya melalui infokus proyektor, beliau menjelaskan tentang kehebatan hasil karya Seni Barat,'' paparnya seperti dikutip dari situs whyislam.org.
Wajah Islam
Saat di Waterloo ini, ia sempat bekerja pada bagian Departemen Seni Rupa, yang salah satu tugasnya mempersiapkan slide dan katalog seni. Karenanya setiap kali masuk ke perpustakaan, menurut Mattson, ia selalu mengumpulkan buku-buku seni sejarah. Dan untuk mendapatkan bahan-bahan guna keperluan pembuatan katalog seni, ia terpaksa harus pergi ke museum yang ada di Toronto, Montreal, dan Chicago.
Bahkan, ia harus merelakan masa liburan musim seminya dihabiskan di dalam Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris. Saat berada di Paris inilah untuk kali pertama dalam hidupnya Mattson berjumpa dengan seorang Muslim. Ia menyebut momen tersebut sebagai 'the summer I met Muslims'.
''Saya selalu terkenang akan peristiwa ini,'' ungkapnya. Apa yang dicarinya selama ini, ungkap Mattson, hanya berkaitan dengan semua karya seni yang tergambar dalam bentuk visual. Peradaban Barat memang dikenal memiliki tradisi menggambarkan sesuatu dalam bentuk visual, termasuk penggambaran mengenai keberadaan Tuhan.
''Kita banyak membuat kesalahan dengan berpikir bahwa melihat berarti mengenali, dan semakin terekspose seseorang itu, maka semakin pentinglah orang tersebut.'' Namun, akhir dari pencariannya tentang seni telah membawa Mattson bertemu dengan dua orang seniman, laki-laki dan perempuan, yang tidak membuat patung dan lukisan sensual tentang Tuhan. ''Mereka telah mengenali Tuhan dengan cara yang berbeda, menghargai pemimpin, dan menghargai hasil kerja seorang wanita.''
Gambaran mengenai Islam yang ia dapatkan dari kedua orang teman barunya ini, membawa Mattson pada pengenalan wajah Islam yang semakin baik. Ia menyatakan, peradaban Islam tidak menganut sistem penggambaran sesuatu dalam bentuk visual di dalam mengingat dan Memuji Tuhan dan menghargai seorang Nabi.
''Allah adalah sesuatu yang tersembunyi. Tersembunyi dalam pantulan mata umat manusia. Tetapi, orang yang memiliki penglihatan dapat mengenali Tuhannya dengan melihat, mempelajari pengaruh dari kekuatan ciptaan-Nya.'' Selain penggambaran terhadap Tuhan, umat Islam juga melarang penggambaran terhadap semua Nabi Allah.
Umat Islam hanya menuliskan nama mereka dalam bentuk kaligrafi. Kata-kata, tulisan, dan ucapan serta akhlak mulia dalam kehidupan merupakan media utama bagi Muhammad di dalam menyebarkan pengaruhnya ke seluruh umatnya. Dari sinilah kemudian Mattson mulai tertarik untuk mempelajari keyakinan yang dianut oleh kedua temannya yang asal Senegal ini.
Ia pun mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Setelah banyak mempelajari lebih jauh mengenai Islam dari Alquran, Mattson akhirnya menyadari dan yakin adanya Allah. ''Pilihan-pilihan Anda mencerminkan siapa diri Anda. Meski ada keterbatasan, tapi selalu tersedia kesempatan untuk memilih yang terbaik,'' katanya.
Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga. Semua perbuatan, perkataan, dan perilaku Nabi SAW inilah yang disebut dengan sunah.
Dan pengaruh Sunah Nabi Muhammad tersebut telah tergambar pada kehidupan para orang tua, muda, kaya, miskin, yang menjadikannya sebagai suri teladan bagi semua pengikutnya. ''Pertama kali saya menyadari pengaruh fisik dari Sunah Nabi Muhammad pada generasi muda Muslim adalah ketika suatu hari saya duduk di masjid, menyaksikan anak saya yang berumur 9 tahun shalat di samping guru mengajinya. Ubayda duduk di samping guru dari Arab Saudi yang dengan tekun dan lembut mengajarinya sehingga membuatnya sangat respek dan hormat,'' tuturnya.
Islam itu Suka Berbagi
Perkenalan Ingrid Mattson tentang Islam makin berkembang saat ia berkunjung ke sejumlah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim.
Beberapa peristiwa yang dia temui di negaranegara tersebut, diakui Mattson, makin mempertebal keyakinannya terhadap Islam. Lebih setahun, dalam perjalanannya ke negara-negara Muslim ini ia menyaksikan kesamaan keinginan untuk berbagi dan selalu saling memberi antara sesama serta kesamaan keyakinan yang mendalam.
''Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang,'' jelasnya sambil mengutip hadis Nabi SAW.
Salah satunya adalah ketika ia mengunjungi Kosovo. Selama serangan Serbia ke Kosovo, banyak Muslim Albania yang menyediakan rumah mereka untuk para peng ungsi. Bahkan, satu orang memasak setiap harinya untuk 20 orang dalam rumah yang sederhana.
Begitu juga ketika ia menikah di Pakistan. Sebagai pekerja sosial pada kamp pengungsian, Mattson dan suami tidak memiliki cukup uang. Sekembalinya dari pernikahan ke kamp pengungsian, para wanita Afghanistan bertanya kepadanya tentang pakaian, perhiasan emas, cincin kawin, dan kalung emas yang diberikan oleh suami kepadanya sebagai mahar.
''Saya perlihatkan kepada mereka cincin emas sederhana dan saya ceritakan tentang baju pengantin yang saya pinjam untuk menikah. Wajah mereka langsung berubah menunjukan perasaan sedih dan simpati.
'' Seminggu setelah peristiwa itu, saat ia sedang duduk di depan tenda kamp pengungsi yang berdebu, para wanita Afghanistan tersebut muncul lagi. Mereka datang menemuinya dengan membawa celana biru cerah terbuat dari satin dengan hiasan emas, sebuah baju berlengan merah dengan warna-warni dan scarfwarna biru yang tampak serasi dengan pakaian, sebagai hadiah pernikahan.
''Semua yang saya lihat adalah hadiah pernikahan yang tak ternilai bagi saya, bukan saja dukungan mereka, tetapi pelajaran keikhlasan dan rasa empati yang mereka berikan yang merupakan buah yang sangat manis dari sebuah keyakinan yang benar". (rpblk)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

Jurnalis Eropa Filmkan Kisah Wanita-Wanita Mualaf

ISLAM AGAMAKU - Sejak terjadinya serangan 11 September 2001, muncul perhatian yang besar terhadap Islam di berbagai kawasan, termasuk di Eropa. Pandangan terhadap Islam dapat bersikap positif maupun negatif. Kini, terdapat peningkatan jumlah penduduk Eropa yang beralih agama menjadi Muslim. Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah mualaf di Eropa setiap tahun. Namun, diperkirakan jumlah tersebut mencapai ribuan. Kebanyakan mualaf tersebut adalah wanita.

Saat ini, terdapat sebuah acara yang menyajikan kisah-kisah seputar gadis-gadis Eropa yang menjadi mualaf. Acara tersebut bertajuk “In Godsnaam” (Atas Nama Tuhan), hasil besutan jurnalis Annemie Struyf.
Salah satu obyek liputan dalam acara itu adalah Al Minara, sebuah organisasi yang membantu para gadis Flemish beralih agama menjadi Muslim. Menurut Al Minara, tiga gadis Flemish beralih menjadi Muslim setiap harinya. Dengan kata lain, terdapat lebih dari seribu gadis Flemish muallaf setiap tahun. Salah satu tokoh utama dalam organisasi tersebut adalah Nordine Taouil, imam yang terkenal selama masa hangat-hangatnya perdebatan tentang larangan pemakaian jilbab di sekolah. Struyf dapat dengan lancar memaparkan perihal organisasi tersebut. Namun, ketika Struyf bertanya tentang sponsor dari Saudi, ia diminta berhenti merekam.
Obyek liputan yang lain adalah pasangan Linsey Daman dan Abdelali Jahoub. Daman, seorang wanita dari Sint-Amandsberg, menggunakan nama Safiya setelah menjadi mualaf. Safiya berkenalan dengan Abdelali Jahoub, seorang pria Aljazair, lewat Muslima.com. Dua belas hari setelah pertemuan pertama mereka, Safiya dan Jahoub menikah. Dalam acara “In Godsnaam”, Jahoub mengaku telah bermukim selama lima tahun di Belgia ketika acara “In Godsnaam” dibuat. Safiya mengatakan bahwa Jahoub menggunakan nama lain untuk bekerja karena dengan nama Muslim, sulit untuk mendapatkan pekerjaan di Eropa.
Acara tersebut menunjukkan bahwa pernikahan Safiya-Jahoub berlangsung di bawah pimpinan Catharina Segers, kepala urusan sipil. Mengingat jumlah perkawinan di kota tersebut mencapai 1.500 setiap tahun, tentu saja Segers tak dapat mengingat pasangan Safiya-Jahoub. Namun, Segers ingat bahwa ada file tentang pasangan itu. Terapat pernyataan Segers sebagai berikut: “Departemen pernikahan kota Ghent menyimpulkan selama berlangsungnya pernikahan ini bahwa terdapat cukup unsur untuk percaya bahwa ini merupakan perkawinan yang pantas. Sebuah file dikirimkan kepada penuntut umum, namun jaksa tidak memiliki cukup bukti. Dengan demikian, saya mengesahkan perkawinan ini.”
Terdapat asumsi bahwa para wanita Eropa beralih agama menjadi Muslim karena pengaruh kekasih mereka yang kebetulan beragama Islam. Benarkah demikian? Tampaknya, hal itu tak selalu benar.
Mary Fallot, seorang wanita Prancis, menyatakan kepada csmonitor.com pada tahun 2005 bahwa keputusannya untuk menjadi mualaf tidak terkait sama sekali dengan kehidupan cintanya. “Ketika saya katakan kepada rekan-rekan kerja saya bahwa Saya telah menjadi mualaf, reaksi pertama mereka adalah bertanya apakah Saya punya pacar Muslim,” kata Fallot saat itu. “Mereka tak percaya waktu Saya katakan bahwa Saya melakukannya karena kehendak pribadi.”
Di Rusia, memeluk agama Islam juga telah menjadi suatu tren baru.
Andrey Ignatyev, pakar sosiologi agama di Russian Humanitarian State University, berusaha untuk menjawab pertanyaan "mengapa etnis Rusia masuk Islam?" tanpa membesar-besarkan dan memakai bahasa apokaliptis yang mana sering dipakai dalam pembahasan masalah keagamaan.
Dalam sebuah artikel berat footnoted diposting di Portal-Credo.ru situs, Ignatyev mengatakan bahwa diskusi paling awal masalah ini telah gagal karena mereka telah menawarkan satu penjelasan dari apa yang sebenarnya merupakan sebuah fenomena sosial rumit. Bahkan, ada alasan yang luar biasa beragam alasan untuk pindah agama. Untuk bagian ini, Ignatyev menawarkan empat alasan.
Pertama, Sosiolog Moskow mengatakan, jumlah terbesar adalah mereka yang pindah agama karena perkawinan, sebuah kelompok yang meliputi orang-orang yang masuk Islam sebelum mereka menikah dan mereka yang menjadi muslim setelah mereka masuk dalam perkawinan dengan salah satu pemeluk Islam. "Sebagai aturan," yang termasuk kelompok ini kebanyakan adalah perempuan dan orang tua laki-laki menjadikan pindah agama sebagai sebuah prasyarat perkawinan.
Meskipun perempuan-perempuan tersebut merasakan"kebencian dari Islamofobis tertentu seperti anggota Gerakan Against Illegal Immigration," Ignatyev mengatakan, kebanyakan dari mereka "sangat sedikit" tahu tentang kepercayaan baru merka dan jarang muncul di mesjid setelah mereka resmi pindah agama, meskipun beberapa dari mereka menjadi aktif dalam Islam.
Kedua, dia melanjutkan, ada orang-orang Rusia yang tertarik oleh kemistisan Sufisme, pola yang sama yang ditemukan di seluruh dunia ketika "mencari Tuhan" sering mengarah ke orang-orang untuk "pindah ke agama lain" seperti Hinduisme atau Buddhisme. Namun umumnya, Ignatyev mengatakan, orang-orang seperti itu "tidak menunjukkan minat dalam komuni dengan etnis atau berusaha untuk menjadi bagian dari kehidupan Muslim”.
Ketiga, Ignatyev mengatakan, ada orang-orang yang dengan "kesadaran menerima Islam sebagai agama dari sejarah, budaya dan manifestasi etnografi." Mereka "lebih serius daripada neofit dari kelompok pertama dan kedua," dan beberapa dari mereka belajar bahasa dari negara Muslim dan bahkan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mendapatkan pengetahuan tentang Islam.(sumed)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»

27 Januari, 2010

Dokter Muslim AS Ulurkan Tangan Untuk Haiti

ISLAM AGAMAKU - Tak lama setelah gempa bumi mengguncang Haiti pada tanggal 12 Januari, Dr. Nabile Safdar tidak ragu untuk secara sukarela membantu korban luka dan sakit di negara tersebut. Anggota Asosiasi Medis Islam Amerika Utara (IMANA), dokter wilayah Washington ini adalah bagian dari tim medis pertama dari IMANA yang tiba di Republik Dominika menggunakan pesawat pada tanggal 16 Januari dan kemudian langsung ke Haiti.

“Tujuan dari tim ini adalah mendirikan sebuah klinik di Haiti dan mengkonfirmasi bahwa logistik dan keamanannya baik sehingga tim-tim lain dapat menyusul,” ujar Safdar, seorang dokter Muslim Amerika, kepada Amerika.gov sesaat setelah ia kembali ke AS.
Dokter-dokter IMANA membawa serta pasokan medis seperti obat penahan sakit, perban, antibiotik, dan krim antibiotik. Mereka juga membawa makanan sendiri, penyuling air, dan kantung tidur, tak yakin dengan situasi yang akan mereka hadapi begitu tiba di Haiti.
Tim medis IMANA ditemui di Republik Dominika oleh Comprehensive Disaster Relief Services (CDRS), sebuah organisasi yang pernah bermitra dengan IMANA dalam menangani pasca gempa di Pakistan tahun 2005. Dengan bantuan dari organisasi Haiti setempat, AIMER, CDRS menyediakan dukungan logistik yang dibutuhkan dokter-dokter IMANA untuk merawat para pasien.
Perkenalan Safdar dengan tingkat keparahan krisis Haiti terjadi saat tim IMANA mengunjungi sebuah rumah sakit di perbatasan Haiti-Dominika. Di rumah sakit kecil itu, para dokter merawat tanpa henti korban-korban Haiti yang terluka saat gempa.
“Pasien ada di mana-mana, di koridor, halaman, ruang tunggu,” ujar Safdar. “Untuk standar Amerika, fasilitasnya tergolong kecil, namun mereka kebanjiran pasien pada saat itu.”
Dokter-dokter IMANA dan personel CDRS mengunjungi rumah sakit itu untuk membawa pasien yang terluka parah ke Haiti dan dirawat di sana.
Tepat di luar Port-Au-Prince, Haiti, AIMER Haiti mengamankan sebuah tempat bermain yang rusak akibat gempa sebagai lokasi perawatan pasien oleh tim IMANA. Lokasi itu cocok karena terdapat perimeter yang aman serta paviliun restoran yang dapat dijadikan klinik berjalan. Segera setelah tiba di sana, tim media IMANA mulai bekerja di lingkungan yang menantang.
“Kami harus berimprovisasi,” ujar Safdar. “Meja hoki udara menjadi tempat tidur, meja foosball menjadi tempat tidur anak-anak, meja lipat menjadi tandu. Kami harus memanfaatkan apa yang ada.”
Kebanyakan pasien yang ditangani tim beranggotakan lima orang itu – mencapai 100 pasien per hari – mengalami luka-luka yang telah diantisipasi dokter sebelumnya: patah tulang, luka tumbukan, infeksi, dan dehidrasi. Namun, ada satu kasus tak terduga yang meninggalkan kesan pada Safdar.
Seorang wanita telah melahirkan sehari sebelum gempa terjadi melalui bedah caesar. Ia sendiri adalah korban gempa, menderita luka bakar tingkat tiga ketika sebuah lampu jatuh menimpanya. Ketika persediaan makanan untuknya mulai habis, ibu muda itu memberi makan bayinya dengan sekaleng susu formula. Ketika susu itu habis, ia memberikan air gula dan kemudian susu hewan ketika bayinya semakin jatuh sakit seiring berlalunya hari.
“Ia mengalami muntah-muntah dan diare, terkena dehidrasi dan tidak mendapat nutrisi selama beberapa hari,” ujar Dr. Safdar tentang bayi tersebut. “Itu hanya tentang memberikan mereka beberapa formula dan mengajari sang ibu, yang baru pertama kali memiliki anak, bagaimana menyusui dengan efektif. Saya rasa itu memberikan perbedaan pada anak tersebut.”
Namun, itu adalah kasus di mana si bayi tidak membutuhkan bahan-bahan medis yang ada. Menurut Safdar, bahan-bahan medis itu sangat terbatas, tidak hanya di klinik sementara IMANA, tapi juga di seluruh Haiti. Safdar mengatakan bahwa di hari kedua dan ketiga ia beserta koleganya harus menggunakan bahan-bahan medis mereka dengan sangat hati-hati.
Di antara pasokan medis yang paling dibutuhkan adalah penahan rasa sakit, antibiotik, dan kruk.
“Kami berusaha membawa sebanyak mungkin kruk dari Dominika, namun pasiennya begitu banyak di sana sehingga kami mulai kehabisan kruk,” ujar Safdar. “Sepasang kruk menciptakan perbedaan antara mereka yang berada di bawah belas kasihan orang-orang sekitar yang membawa mereka ke mana-mana dan mereka yang dapat berjalan sendiri.”
Dokter-dokter IMANA juga menjangkau hingga ke luar klinik kecil mereka. Dr. Irfan Galaria, yang mengepalai tim pertama IMANA, mengatakan bahwa timnya membuat sebuah unit keliling untuk memperluas pelayanan mereka ke kota-kota tenda setempat. Meskipun hanya untuk jangka pendek, bantuan tetap dibutuhkan di area-area lain untuk para dokter sukarelawan menangani pasien dengan lebih baik.
“Salah satu masalah yang dihadapi oleh banyak organisasi adalah keamanan,” ujar Galaria.
“Kami ingin mendirikan klinik di pusat kota, namun karena wilayahnya begitu tidak stabil, kami tidak dapat menciptakan lingkungan yang aman. Kami terpaksa mendirikan klinik yang lebih jauh untuk dijangkau orang-orang dan untuk kami menjangkau mereka.”
Satu masalah besar lain yang disebutkan oleh Galaria adalah struktur bangunan yang rusak akibat gempa. Galaria mengatakan ada sejumlah rumah sakit yang ditelantarkan di Port-au-Prince karena orang-orang tidak yakin dengan keamanannya. Salah satu cara untuk mengatasi ini adalah dengan membawa insinyur yang dapat menentukan apakah sebuah gedung aman untuk ditempati.
Kurangnya bangunan yang aman menimbulkan isu yang lebih akut mengenai tunawisma.
“Bahkan dengan rumah-rumah yang tidak hancur pun orang-orang takut tinggal di sana,” ujar Galaria. “Ini berkontribusi pada kota-kota tenda dan memicu keseluruhan masalah dan kekacauan.”
Galaria dan Safdar sependapat bahwa misi medis ke Haiti akan menjadi upaya tanpa henti bagi IMANA. Saat ini, IMANA telah membentuk lima beranggotakan 10-24 dokter yang siap pergi ke sana bergiliran tiap minggu. Menurut para dokter, tidak ada kekurangan sukarelawan medis IMANA untuk Haiti, dan baik ia maupun Safdar mungkin akan kembali.
“Saya ingin kembali,” ujar Safdar. “Saya baru saja memberitahu kedua teman saya yang dapat tinggal di sana lebih lama bahwa saya merasa iri dan bahwa Tuhan memberkahi mereka karena mereka melakukan perbuatan yang baik.”(suaramedia)

Subscribe to ISLAM AGAMAKU

Selengkapnya »»